Budaya-Tionghoa.Net | Ada pertanyaan dari seorang member . Dia sering melihat vampir Tiongkok yang berseragam hitam-hitam dan melompat-lompat di film Hong Kong. Dia mempertanyakan keberadaan Vampir seperti itu dan apakah benar mayat dapat dihidupkan untuk melompat sendiri ke kuburannya di Tiongkok pada masa lampau? Demikian pertanyaannya.
Memahami Kocoa 糊紙 Dari Sudut Estetika
Budaya-Tionghoa.Net | I.Pendahuluan . Penulis beberapa kali membahas tentang kocoa 糊紙[1] terutama untuk kalangan Tridharma[2], terakhir dilakukan pada tanggal 9 April 2011 di Adiraja shop, Muara Karang, Jakarta. Pada pembicaraan yang penulis bawakan sebelumnya tidak pernah memasukkan unsur estetika, apa yang dibawakan oleh penulis seringnya membahas dari sudut sejarah dan nilai-nilai spiritual. Apa yang dibabarkan pada Estetika membuka wawasan dan memperkaya khazanah penulis tentang kocoa sebagai suatu bagian dari seni yang merepresentasikan lubuk terdalam keluarga yang ditinggalkan terhadap mereka yang pergi ke alam baka dan suatu sikap penghormatan terhadap para mahluk suci. Tentunya kocoa sebagai sarana ritual juga memiliki nilai-nilai filosofis serta sejarah perkembangannya. Dimana yang akan penulis paparkan dalam karya tulis ini lebih kearah perkembangan sejarahnya, terutama terkait dengan kertas yang pembuatannya disempurnakan oleh Cai Lun pada masa dinasti Han sekitar 2000 tahun yang lalu dan akan disinggung sedikit nilai-nilai spiritualnya.
Apa yang dimaksud dengan Taisui ?
Budaya-Tionghoa.Net | Apa yang dimaksud dengan Taisui ? Dalam kitab Shiji bagian Tianguan 史记 天官书 dikatakan bahwa di langit ada lima unsur dan di bumi ada lima hubungan atau pergerakan: shuixing [chenxing, 辰星], jinxing [taibai-太白],huoxing [ying Huo -熒惑], tuxing [zhen xing-鎮星], muxing [suixing-歲星]. Muxing inilah yang kita sebut Suixing dan pergerakan Taisui ini adalah 60 pergerakan sesuai dengan pergerakan cabang langit dan ranting bumi. Dimana Suixing sebagai waktu bergerak dan berinteraksi dengan Taisui sebagai ruang, tapi secara mudah kita sebut saja Taisui yang bergerak berdasarkan ritme waktu dan ruang.
Antara Domingo Lam-co dan Jose Rizal
Budaya-Tionghoa.Net |
Domingo Lam-co ( Ke Yinan , Kho Gilam ) seorang imigran Tionghoa yang menempuh perjalanan dari Jinjiang , Quanzhou ke Filipina di pertengahan abad 17. Quanzhou adalah daerah dimana Jesuit (kemudian Dominican) masuk ke Tiongkok untuk misi penyebaran agama. Lam-co dikenal diantara masyarakat setempat yang kemudian tinggal bersamanya di Binan-Filipina sebagai figur pemimpin.
Seri Tulisan Confucius [21] – Perkembangan Ajaran Confucius Pasca- Confucius
Budaya-Tionghoa.Net | Setelah Confucius meninggal dunia pada tahun 479 SM, maka perkembangan ajaran Confucius diteruskan oleh murid-muridnya, yang seluruhnya berjumlah kurang lebih 3000 orang. Di antara mereka terdapat 72 murid utama yang paling menonjol, sehingga dijuluki ` 72 orang bijak ‘. Terdapat cukup banyak murid-muridnya tersebut yang memangku jabatan tinggi di pemerintahan. Golongan terpelajar yang mengikuti ajaran Confucius ini membentuk suatu aliran intelektual yang disebut ” Ru Jia ” (Golongan Terpelajar).