Budaya-Tionghoa.Net | Teman-teman semilis, tentu saja aku sudah menonton film Cin(T)a tersebut. Jika belum aku takkan berani berkomentar apalagi menulisnya.
Forum Budaya & Sejarah Tionghoa
Budaya-Tionghoa.Net | Teman-teman semilis, tentu saja aku sudah menonton film Cin(T)a tersebut. Jika belum aku takkan berani berkomentar apalagi menulisnya.
Budaya-Tionghoa.Net | Saya tertarik dengan topik yang Bung Ardian lontarkan tentang ‘kicap manis’ yang kayaknya ‘invented’ di Jawa. Hasil assimilasi kicap (asin) yang dibawa kakek moyang dari Tiongkok dengan selera perdapuran manis dari Jawa.
Sama seperti tempe – yang semula jadi tidak dikenal oleh orang Tionghua, nampaknya juga ditemukan di Jawa – orang Tionghua di Kalimantan dan Sumatera nampaknya cuma kenal tahu sebagai olahan dari kedele, baru kemudian kenal tempe setelah berinteraksi dengan orang-orang (Tionghua atau pun bukan) dari Jawa.
Budaya-Tionghoa.Net | Bung Yongde dan TTM semuah, Hai, apakabar? Sudah makan pi-oh?Kalau soal bagi-membagi info tentang makanan, lebih elok lagi kalau berbagi makan bersama pi-oh-nya dong.
Resminya sih itu pi-oh bernama “Pi-oh Jakarta”, dagangnya secara de facto pukul 18:00 baru resmi buka gelaran, sebab kalau anda datang pukul 17:00, baru juga datang gerobak berisi panci dan ubo rampe, baru pasang tenda, dan mesti nunggu tauke-nyo datang, barulah bisa mulai melayani.
Budaya-Tionghoa.Net | Ikan arwana bawa hoki? Bener sekali, terutama bagi pedagang-nya, juga peternaknya. Karena harganya begitu mahal sih, jeh! Bagaimana di Tiongkok? Jelas itu pembawa hoki juga, secara harafiah, terutama bagi pedagangnya juga. Bagi pembelinya, terutama para konglomerat – ya jelas ‘membawa’ hoki. Dengan memelihara ikan mahal begitu, apalagi dipajang di ruang tamu kantornya, pastilah orang lebih yakin dan mantap berbisnis dengannya. Karena jelas sekali keuangannya solid, mampu beli ikan arwana yang harganya bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah per ekor sih!
Budaya-Tionghoa.Net | Baru saja selesai menonton wayang orang di Opera House Sydney. Mungkin ada yang bertanya lantas apa hubungannya dengan milis budaya Tionghua ?
Pada waktu duduk menonton wayang orang di Opera House, tiba tiba pikiran terbawa ke hari hari sebelum Oktober tahun 1965, itulah hari hari di masa kecil dulu. Hari hari dimana komik wayang Mahabarata sebanyak 40 jilid menjadi komoditi yang penting dan berpindah tangan di banyak keluarga dan banyak tangan. Inilah hari hari dimana banyak anak anak membaca komik wayang, Siti Gahara, Panji Semirang dan cerita silat.